Media Garuda Tanimbar.com., Jakarta – 09/06/2026/ Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan akan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek gas raksasa Blok Masela pada pecan depan atau pertengahan Juli 2026.
Kepastian ini disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto di Jakarta dikutip dari cnbcindonesia.com.
Djoko mengatakan, saat ini persiapan pelaksanaan acara terus dimatangkan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Panitia Groundbreaking yang dipimpin Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Pattimura.”Kami sedang koordinasi dengan Ketua Panitia acara Groundbreaking (GB) Proyek Masela Pangdam Patimura di Bandara Soekarno-Hatta. Saat ini logistik dari Bandara Soekarno-Hatta dalam proses pengiriman ke lokasi Saumlaki Maluku,” ujar Djoko dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Total logistik yang dikirim mencapai sekitar 93 ton, terdiri dari tenda, karpet, genset, AC dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya. Sebagian logistik dikirim melalui jalur laut.Adapun, persiapan di lokasi juga terus dilakukan dengan menyesuaikan desain acara yang akan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.”Persiapan di lapangan kami lakukan dengan design kehadiran Bapak Presiden. Mohon doa dan dukungan Bapak Ibu Insya Allah Groundbreaking akan dilaksanakan pertengahan bulan ini Juli 2026,” tutupnya.
Blok Gas RaksasaUntuk diketahui lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa.Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.
Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya.Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proyek yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) itu ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027.Bahlil mengatakan pemerintah terus mendorong percepatan proyek tersebut agar hambatan investasi yang pernah terjadi tidak kembali terulang.Menurutnya, sejumlah tahapan krusial telah menunjukkan perkembangan positif, termasuk proses Front End Engineering and Design (FEED).
“Blok Abadi Masela ini puluhan tahun tertunda, tidak selesai-selesai, nah setelah akhirnya sudah ada keputusan, sudah ada kajian, saya kasih tau sama Inpex untuk segera jalan. Sekarang alhamdulillah sudah jalan. Tahun 2027 konstruksi,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, Blok Masela merupakan salah satu aset gas bumi terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini. Pemerintah menargetkan proyek yang dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitranya tersebut dapat mulai berproduksi pada periode 2029-2030 guna memperkuat ketahanan energi nasional.”Tahun 2029 hingga 2030, sudah bisa terproduksi, dan itu salah satu giant yang terbesar di Indonesia,” imbuhnya
(Randy Fenan)






